Dunia Kertas

MAKALAH Tafsir Al-Quran tentang manusia

MAKALAH

“Tafsir Al-Quran tentang manusia”

Di ajukan untuk memenuhi salasatu tugas

mata kuliah Tafsir


PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk Allah  yang paling mulia dan diciptakan untuk memimpin kehidupan di bumi ini (QS, Al-An’am: 165), untuk itu Allah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tin: 4) yaitu terdiri dari unsur jasmani dan unsur rohani. Dengan unsur jasmaninya ia berbeda dengan makhluk yang gaib dan dengan unsur rohaninya ia berbeda dengan makhluk yang melata di alam ini. Sehingga wajarlah jika manusia diberikan kedudukan yang sangat tinggi, bahkan malaikatpun diperintahkan sujud kepada-Nya. Melalui pengajaran Allah kepada Adam, manusia mampu, secara potensial, untuk mengetahui hukum-hukum alam. Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya (QS. Al-Baqarah [2]: 31), dan melalui penundukan Allah terhadap alam raya, manusia dapat memanfaatkan seluruh jagat raya. Dia yang telah menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya (AS. Al-Jatsiyah [45]: 13).

Sebelum Allah menciptakan Adam, Dia telah menyampaikan rencana-Nya untuk menjadikan makhluk tersebut (bersama anak keturunannya) menjadi khalifah di bumi. Sebelum terjun ke bumi Adam bersama isterinya transit terlebih dahulu di surga agar mendapat pengalaman, baik pahit maupun manis. Sehingga dengan pengalaman itu, ia memperoleh gambaran bagaimana sebenarnya kehidupan yang akan dialaminya di dunia dan bagaimana seharusnya ia membangun dunia itu.

Dari pengalaman Adam dan amanat yang ditanggungnya, manusia keturunan Adam ini diharapkan dapat meneruskan apa-apa yang telah digariskan oleh Al-Quran. Walaupun  dalam Al-Quran ayat-ayat yang berkaitan dengan manusia sangat banyak, namun dalam makalah ini penulis hanya ingin menguraikan tentang beberapa istilah manusia dalam Al-Quran dan  manusia sebagai dimensi intelektual, sosial dan spiritual.

 


 

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka kami bisa menyelesaikan sebuah makalah. Shalawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan alam nabi besar muhamad SAW. Beserta keluargaya, sahabatnya dan tabiinnya

Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul"tafsir Al-Quran tentang manusia", yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajarinya.

Makalah ini disusun untuk memyelesaikan tugas pada mata kuliah Tafsir di sekolah tinggi agama islam dr. khez muttaqien, pada program studi Pendidikan Agama Islam. Maka harapan penulis kiranya makalah ini, sesuai dengan harapan Bapak Dosen pada mata kuliah yang dimaksud.

Dalam proses penyusunan makalah ini, tentunya penulis mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu rasa terima kasih yang dalam penulis kepada yang terhormat :

1.        Ibu dosen Mata Kuliah Tafsir.

2.        Rekan-rekan Mahasiswa yang telah memberikan masukan dalam penyusunan makalah ini.

Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.

Penulis menyadari bahwa sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan sehingga hanya yang demikian saja yang dapat penulis berikan. Penulis juga sangat mengaharapkan kritikan dan saran dari para pembaca yang sifatnya membangun, sehingga penulis dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam penyusunan makalah selanjutnya.


 

 

Daftar isi

Kata pengantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1

Pendahuluan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2

Pembahasan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .3

A.    Tafsir Quran Surah Al Baqarah ayat 30

B.     Tafsir Quran Surah As Sajdah ayat 7  

C.    Quran Surah Al Hijr ayat 26

D.    Tafsir Quran Surah Al-Mu’minun ayat 12-15

E.     Tafsir Quran Surah Al Haj ayat 5

F.     Quran Surah An-Nahl ayat 4

Penutup. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .18

kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .18

Daftar pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19

 

 Manusia merupakan makluk yang sempurna, dalam penciptaannya Allah memberika segala dimensi ke dalam diri manusia. Manusia oleh Allah swt. diberi akal yang tidak diberikan kepada hewan, diberi nafsu, yang tidak diberikan kepada malaikat, diberi hati untuk merasakan, dan lain sebagainya, sehingga manusia disebutkan sebagai sebaik-baik ciptaan. Untuk itu berikut Ayat-ayat Al-Quran Tentang Penciptaan Manusia.

 

A.    Quran Surah Al Baqarah ayat 30

 

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ 

 

Terjemahannya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"

          Makna yang dimaksud ialah 'hai Muhammad, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, dan ceritakanlah hal ini kepada kaummu'. Ibnu Jarir meriwayatkan dari salah seorang ahli bahasa Arab —yaitu Abu Ubaidah— bahwa lafaz iz dalam ayat ini merupakan huruf zaidah (tambahan), dan bentuk lengkap kalimat ialah wa qala rabbuka tanpa memakai iz. Pendapat tersebut dibantah oleh Ibnu Jarir. Menurut Al-Qurtubi, semua ahli tafsir pun membantahnya. Hingga Az-Zujaj mengatakan bahwa pendapat tersebut merupakan suatu tindakan kurang ajar dari Abu Ubaidah.

{إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً}

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. (Al-Baqarah: 30)

Yakni suatu kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain silih berganti, abad demi abad, dan generasi demi generasi, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

{وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ

Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi. (Al-An'am: 165)

{وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ}

dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi. (An-Naml: 62)

{وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ}

Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai ganti kalian di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun. (Az-Zukhruf: 60)

{فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ}

Maka datanglah sesudah mereka generasi lain. (Al-A'raf: 169)

Menurut qiraah yang syaz dibaca inni ja'ilun fil ardi khalifah (sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah-khalifah di muka bumi). Demikianlah diriwayatkan oleh Zamakhsyari dan lain-lainnya.

     Al-Qurtubi menukil dari Zaid ibnu Ali, yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini bukanlah Nabi Adam a.s. saja seperti yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir. Al-Qurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, dan semua ahli takwil. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Al-Qurtubi ini masih perlu dipertimbangkan. Bahkan perselisihan dalam masalah ini banyak, menurut riwayat Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, juga oleh yang lainnya.

     Pengertian lahiriah Nabi Adam a.s. saat itu masih belum kelihatan di alam wujud. Karena jikalau sudah ada, berarti ucapan para malaikat yang disitir oleh firman-Nya dinilai kurang sesuai, yaitu: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? (Al-Baqarah: 30)

Karena sesungguhnya mereka (para malaikat) bermaksud bahwa di antara jenis makhluk ini ada orang-orang yang melakukan hal tersebut, seakan-akan mereka mengetahui hal tersebut melalui ilmu yang khusus, atau melalui apa yang mereka pahami dari watak manusia. Karena Allah Swt. memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan jenis makhluk ini dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam. Atau mereka berpemahaman bahwa yang dimaksud dengan khalifah ialah orang yang melerai persengketaan di antara manusia, yaitu memutuskan hukum terhadap apa yang terjadi di kalangan mereka menyangkut perkara-perkara penganiayaan, dan melarang mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan serta dosa-dosa. Demikianlah menurut Al-Qurtubi. Atau para malaikat mengkiaskan manusia dengan makhluk sebelumnya, sebagaimana yang akan kami kemukakan dalam berbagai pendapat ulama tafsir.

Ucapan para malaikat ini bukan dimaksudkan menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dorongan dengki terhadap manusia, sebagaimana yang diduga oleh sebagian ulama tafsir. Sesungguhnya Allah Swt. menyifati para malaikat; mereka tidak pernah mendahului firman Allah Swt., yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak diizinkan bagi mereka mengemukakannya.

     Dalam ayat ini (dinyatakan bahwa) ketika Allah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan di bumi suatu makhluk —menurut Qatadah—, para malaikat telah mengetahui sebelumnya bahwa makhluk-makhluk tersebut gemar menimbulkan kerusakan padanya (di bumi). Maka mereka mengatakan: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? (Al-Baqarah: 30)

     Sesungguhnya kalimat ini merupakan pertanyaan meminta informasi dan pengetahuan tentang hikmah yang terkandung di dalam penciptaan itu. Mereka mengatakan, "Wahai Tuhan kami, apakah hikmah yang terkandung dalam penciptaan mereka, padahal di antara mereka ada orang-orang yang suka membuat kerusakan di muka bumi dan mengalirkan darah? Jikalau yang dimaksudkan agar Engkau disembah, maka kami selalu bertasbih memuji dan menyucikan Engkau," yakni kami selalu beribadah kepada-Mu, sebagaimana yang akan disebutkan nanti. Dengan kata lain (seakan-akan para malaikat mengatakan), "Kami tidak pernah melakukan sesuatu pun dari hal itu (kerusakan dan mengalirkan darah), maka mengapa Engkau tidak cukup hanya dengan kami para malaikat saja?"

Allah Swt. berfirman menjawab pertanyaan tersebut:

{إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ}

Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui. (Al-Baqarah: 30)

Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Aku mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut kemaslahatan yang jauh lebih kuat dalam penciptaan jenis makhluk ini daripada kerusakan-kerusakan yang kalian sebut itu. Karena sesungguhnya Aku akan menjadikan dari kalangan mereka nabi-nabi dan rasul-rasul; di antara mereka ada para siddiqin, para syuhada, orang-orang saleh, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang bertakwa, para muqarrabin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang khusyuk, dan orang-orang yang cinta kepada Allah Swt. lagi mengikuti jejak rasul-rasul-Nya.

B.     Quran Surah As Sajdah ayat 7

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ (7) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (8) ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ (9)

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)wya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Allah Swt. menceritakan bahwa Dia telah menciptakan segala sesuatu dengan ciptaan yang sebaik-baiknya dan serapi-rapinya. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan makna firman-Nya:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya. (As-Sajdah: 7)

Yakni Yang Menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, seakan-akan menurut takwilnya terjadi taqdim dan ta'khir dalam ungkapan ayat.

Sesudah Allah menyebutkan tentang penciptaan langit dan bumi, kemudian Dia menyebutkan tentang penciptaan manusia. Untuk itu Dia berfirman:

وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ

dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (As-Sajdah: 7)

Maksudnya, Dia menciptakan bapak manusia Adam dari tanah.

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina. (As-Sajdah: 8)

Yaitu mereka berkembang biak melalui nutfah (air mani) yang dikeluarkan dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.

ثُمَّ سَوَّاهُ

Kemudian Dia menyempurnakannya. (As-Sajdah: 9)

Ketika Allah menciptakan Adam dari tanah, Dia menciptakannya dengan ciptaan yang sempurna lagi utuh.

وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ

dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-iVya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.(As-Sajdah: 9)

Yaitu akal.

قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ                         

(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (As-Sajdah: 9)

Yakni dengan adanya kekuatan tersebut yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt. kepada kalian. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menggunakannya untuk ketaatan kepada Tuhannya.

C.    Quran Surah Al Hijr ayat 26

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (26) وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ (27) }

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.

Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan salsal dalam ayat ini ialah tanah liat kering. 

Makna lahiriah ayat sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ وَخَلَقَ الْجَانَّ مَن مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍ

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (Ar-Rahmah: 14-15)

Dari Mujahid, disebutkan pula bahwa salsal artinya tanah yang berbau busuk. Tetapi tafsir ayat dengan ayat yang lain adalah lebih utama. 

Firman Allah Swt.:

مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ

dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Al-Hijr: 26)

Makna yang dimaksud ialah tanah liat. Sedangkan al-masnun artinya yang licin, seperti pengertian dalam perkataan seorang penyair:

ثُمَّ خَاصَرْتُهَا إِلَى الْقُبَّةِ الخضراءتمشي فِي مَرْمَرٍ مَسْنُونٍ

Kemudian pinggangnya ditempelkan di kubah hijau sambil ber­jalan di atas marmer yang licin lagi mengilap.

Yang dimaksud dengan masnun dalam syair ini ialah licin lagi mengilap. Karena itulah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia pernah mengatakan, "Makna yang dimaksud ialah tanah yang basah."  Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ad-Dahhak, bahwa al-hama-il masnun ialah tanah yang berbau busuk.  Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan masnun dalam ayat ini ialah yang dituangkan. 

Firman Allah Swt.:

{وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya. (Al-Hijr: 27)  Yakni sebelum menciptakan manusia.

مِنْ نَارِ السَّمُومِ

dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 27) Ibnu Abbas mengatakan, makna yang dimaksud ialah angin panas yang dapat membunuh (mematikan). Sebagian ulama mengatakah bahwa samum ialah angin panas di malam dan siang hari. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa kalau samum terjadi di malam hari, dan harur terjadi di siang hari. Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Ishaq yang mengatakan bahwa ia masuk ke dalam rumah Umar Al-Asam menjenguknya, lalu Umar Al-Asam mengatakan, "Maukah aku ceritakan kepada kamu sebuah hadis yang pernah kudengar dari Abdullah ibnu Mas'ud. Dia mengatakan bahwa angin yang panas ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian angin panas yang jin diciptakan darinya. Kemudian Ibnu Mas'ud membacakan firman-Nya: 'Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas' (Al-Hijr: 27)." Dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa al-jan (jin) diciptakan dari nyala api. Menurut riwayat lain, dari nyala api yang paling baik.

Dari Amr ibnu Dinar, disebutkan dari api matahari. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan:

"خُلقت الملائكة من نور، وخُلقت الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وخُلق بَنُو آدَمَ مِمَّا وصِف لَكُمْ"

Para malaikat diciptakan dari nur, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang digambarkan kepada kalian.

Makna yang dimaksud oleh ayat ialah menonjolkan kemuliaan Adam a.s. dan keharuman serta kesucian unsur kejadiannya.

 

 

 

D.    Quran Surah Al-Mu’minun ayat 12-15

 

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ ١٢  ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ ١٣ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤ ثُمَّ إِنَّكُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ ١٥

 

Terjemahannya: 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik 15. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

 

وَ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسانَ مِنْ سُلالَةٍ مِن طينٍ

"Dan sesungguhnya telah Kami jadikan manusia dari air saringan dari tanah." (ayat 12).

 

Apalah yang akan dibanggakan manusia di dunia ini, padahal asal ke­jadiannya hanya dari tanah. Dia makan dari sayur-sayuran, buah-buahan, padi, jagung dan sebagainya, dan segala makanan itu tumbuh dan mengambil sari dari tanah. Datang hujan menyuburkan padi, menghijaukan daun-daunan dan mekarlah bunga, bergayutlah buah. Dan jika kemarau datang layu semua.


Didalam segala makanan itu ada sgala macam -macm saringan yang ditakdirkan Tuhan atas alam , disana ada zat besi , zat putih telur , vitamin , kalori , hormon dan sebagainya . Dengan makanan itu teraturlah jalan darahnya , dan tidak dapat hidup kalau bukan dari zat bumi tempat dia dilahirkan itu .

Dalam tubuh yang sihat, mengalirlah darah, berpusat pada jantung dan dari jantung , mengalirlah darah itu ke seluruh tubuh. Dalam darah itu terdapat zat yang akan menjadi mani. Setetes mani terdapat beribu-ribu bahkan bermilliun "tampang" yang akan dijadikan manusia , yang tersimpan dalam shulbi laki-laki dan taroib perempuan.

ثُمَّ جَعَلْناهُ نُطْفَةً في‏ قَرارٍ مَكينٍ

"Kemudian itu, Kami jadikan dia (setitik mani itu) di tempat yang tetap terpelihara." (ayat 13).


Dengan kehendak Ilahi bertemulah zat tampang dari laki-laki yang rupanya sebagai cacing yang sangat kecil , berpadu satu dengan zat mani pada perempuan yang merupakan telur yang sangat kecil. Perpaduan keduanya, itu , yang dinamai Nutfah. Kian lama kian besarlah nutfah itu, dalam empat puluh hari. 

Dan dalam masa 40 hari mani yang telah berpadu, beransur menjadi darah segumpal. Untuk melihat contoh peralihan beransur kejadian itu, dapatlah kita memecahkan telur ayam yang sedang dierami induknya. Tempatnya aman dan terjamin, panas seimbang dengan dingin, di dalam rahim bunda kandung, itulah "qaraarin makiin", tempat yang terjamin terpelihara.

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظاماً فَكَسَوْنَا الْعِظامَ لَحْماً
"Kemudian Kami jadikan pula mani ifu menjadi segumpal darah, kemudian Kami jadikan pula segumpal darah itu menjadi segumpal daging, dan daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang-tulang itu Kami liputi dengan daging pula." 
(pangkal ayat 14).

Lepas 40 hari dalam bentuk segumpal air mani berpadu itu dia pun bertukar rupa menjadi segumpal darah. Ketika Ibu telah hamil dalam dua tengah tiga bulan. Penggeligaan itu sangat berpengaruh atas badan si Ibu, pendingin , pemarah, berubah-ubah perangai, kadang-kadang tak enak makan. Dan setelah 40 hari berubah darah, dia beransur kian membeku, membeku terus hingga jadi segumpal daging, membeku terus hingga berubah sifatnya menja tulang. Dikelilingi tulang itu masih ada persediaan air yang kelaknya menjadi daging untuk menyelimuti tulang-tulang itu. 

Mulanya hanya sekumpul tulang, tetapi kian sehari telah ada bentuk kepala, kaki dan tangan dan seluruh tulang-tulang dalam badan. Kian lama kian diselimuti oleh daging.


ثُمَّ أَنْشَأْناهُ خَلْقاً آخَرَ

"Kemudian itu Kami ciptakan satu bentuk yang lain. "

Pada saat itu dianugerahkan kepadanya "roh", maka bernafaslah dia. 
Dengan dihembuskan nafas pada sekumpul tulang dan daging itu, berubahlah sifatnya. Itulah calon yang akan menja manusia. 

فَتَبارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخالِقينَ

"Maha Suci Allah, Tuhan yang sepandai-pandai membentuk " (ujung ayat 14).

Saringan tanah di bawah sayur, buah-buahan, padi, jagung yang melekat ke dalam darah jadi hormon dan menjadi mani, sekarang telah bernyawa, dan dia telah menjadi orang. 

Terbayanglah ketika menjadi susunan itu betapa Maha Besarnya Tuhan rnemberi anugerah kepada si asal saringan tanah itu, kelaknya menjadi manusia yang berakal. Menjadi Khalifah Ilahi dalam bumi, merenung alam, menghitung bintang di langit, menjadi Rasul dan Nabi, menjadi Waliullah berjiwa besar, atau bertarung berebut hidup sehingga bumi ini tiada artinya kalau insan yang asal kejadiannya dan saringan tanah itu tidak ada. Maka piramide pusaka Fir'aun-fir'aun di Mesir yang didirikan 4,000 tahun yang lalu, atau Empire State Building yang didirikan dalam abad keduapuluh adalah buah dari sesuatu yang dihembuskan Ilahi ke dalam tulang berpalut daging tempat terpelihara di rahim lbu itu, yang asal mulanya dari air saringan tanah.

Dengan lambat perlahan Rasulullah s.a.w. menyebutkan ayat-ayat ini seketika diturunkan dengan perantaraan Jibril. Setiap butir patah kata dalam ayatnya itu masuk laksana dituangkan ke dalam hati 

sahabat-sahabat Nabi yang mendengarkan, sehingga menambah kuat kokohnya iman yang sedang tumbuh itu. Terasa dalam hati, apalah arti kehidupan manusia dalam alam ini kalau tiada anugerah Tuhan.

Di antara yang hadir mendengarkan ayat ini sahabat Nabi, orang yang kedua. Umar bin Khathab. Menurut riwayatnya Thayalisi yang diterimanya Anas bin Malik, konon setiap patah ayat itu yang beralun berirama dibawa suara Nabi, Umar telah dibawa ke dalam suasana pesona yang mendalam. Dari nutfah air setitik, menjadi darah segumpal dan daging segumpal, dan tulang segumpal, lalu diselimuti dengan daging lain, Umar menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga terloncatlah dari mulutnya:

فَتَبارَكَ اللهُ أَحْسَ نُ الْخالِقينَ

"Maha Suci Allah, Tuhan yang sepandai-pandai membentuk "

Tiba-tiba mendengar sambutan Umar atas ayat itu, bersabdalah Nabi:

"Memang begitulah bunyi ujung ayat hai Umar."

Maka terharulah Umar atas anugerah Ilahi yang kesekian kalinya di­anugerahkan kepadanya, karena perasaan dan fikirannya sejalan dengan wahyu yang akan turun banggalah Nabi kita karena Umarlah satu-satunya ummat yang mendapat anugerah demikian, sehingga pernahlah beliau ber­kata: 

"Sesudah aku tak ada Nabi lagi, yang ada adalah orang-orang yang men­dapat ilham dan Umar adalah orang itu. "

Syahdan maka tersebutlah perkataan bahwasanya karena telah sangat majunya ilmu pengetahuan, telah dapatlah dikirim mani laki-laki dari tempat jauh untuk dicampurkan dengan mani perempuan hingga terjadilah hamil buatan tanpa bersetubuh. Dan ini sudah dilakukan orang untuk binatang ternak dan mulai pula dilakukan orang di antara manusia.

Paling akhir tersebut pula pendapat baru seorang sarjana kimia dari Italia yang mengemukakan bahwa dari campuran zat kimia dia telah dapat men­campur aduk demikian rupa, hingga menghasilkan seorang manusia yang ber nyawa. Tentang zat semacam ini mungkin saja kejadian tidakiah mustahil pada akal. Ketika orang mula-mula menetaskan telur ayam dengan listrik, banyaklah orang heran. Sebelum melihat banyaklah yang tidak percaya. Setengah orang cemas karena semuanya ini menentang agama. Atau bertentangan dengan agama. Tidak! Kemajuan ilmu pengetahuan dan kesungguhan menyelidik tidaklah bertentangan dengan agama. Kita harus merasa syukur atas kemajuan ilmu pengetahuan itu, karena bertambah maju ilmu pengetahuan bertambah yakin kita akan adanya Tuhan yang di antara sifatnya ialah "Alim" dan "Ilm".

Di antara kita merasa syukur karena kemajuan ilmu pengetahuan tentang tenaga atom. Soalnya sekarang bukanlah soal pesatnya ilmu pengetahuan. Soalnya sekarang ialah buat apa pengetahuan itu digunakan. Adakah kemajuan kemanusiaan atau bagi kehancurannya?

Jika pengetahuan memindahkan mani dan hamil buatan dipergunakan untuk memperbanyak dan untuk memperkembang-biakkan binatang ternak seluruh dunia, sehingga dunia tidak kekurangan daging untuk makanan. Alang­kah berfaedahnya pengetahuan itu. Tetapi, jika mani laki-laki dikumpul di suatu tempat untuk dikirim kepada perempuan yang memerlukannya, dari laki-laki yang tak dikenal untuk perem­puan yang tak dikenal, apa namanya pekerjaan itu ? 

Untuk memproduksi lagi banyak-banyak manusia yang tak terang bapak­nya? Salah satu tugas agama ialah memelihara keturunan, mendirikan ke­keluargaan, agar seorang ayah bertanggungjawab terhadap anak. Sampai terhadap isteri. Itulah yang benama manusia. Itulah kemanusiaan. Itulah sebabnya maka nikah kawin dipandang suci oleh segala agama.

Kalau menternakkan manusia sudah sebagai menetaskan telur ayam dengan listrik, atau "penyuntikan mani" di luar persetubuhan ke dalam faraj perempuan hingga timbul hamil buatan, atau kalau seorang sarjana telah mem buat manusia dengan zat kimia, kalau semuanya ini telah berlaku, runtuhlah segala nilai kemanusiaan, dan samalah manusia dengan binatang Dan menjadi kutuklah ilmu pengetahuan itu bagi kehidupan, karena tidak ada perlunya.

Berzina yang menurut Islam adalah segala persetubuhan di luar nikah, termasuk persetubuhan dengan yang haram dinikahi, dilarang keras karena menjaga keturunan itu. Kalau tujuan hanya sekedar dapat anak, apa salahnya jika orang bersetubuh dengan ibunya, atau dengan anak perempuannya? Kalau terbuka pintu hamil buatan dan mani kiriman atau membuat manusia dengan zat kimia maka segala yang bernama nikah dan kawin, ijab-kabul, wali mahar tidak perlu lagi dipertahankan. Kata zina pun tidak usah lagi disebut­sebut. Dan kembalilah manusia kepada asalnya yang diajarkan Darwin, yaitu jadi monyet.

Oleh sebab itu semuanya marilah kita perdalam pengetahuan, perlanjui penyelidikan, tetapi sekali-kali jangan lepas dari agama.

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا وَ هَبْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 
"Wahai Tuhan kami! Janganlah digelincirkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk atas kami. Dan kurniai lah kami dari sisiMu rahmat yang Iangsung. Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan Yang Maha Pemberi Kumia."
(ali Imran: 8)

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذلِكَ لَمَيِّتُونَ

"Kemudian itu kamu semuanya akan menjadi bangkai." (ayat 15).

Ber­syukurlah kamu kepada Tuhan. Dari air saringan tanah menjadi darah dan menjadi mani, dalam tempat terpelihara di rahim Ibu akhirnya kamu diberi nyawa. 1{amu diberi berakal, berfikir, tanggapan, ingatan, khayalan (fantasi) dan diberi tugas oleh Tuhan memikul amanatNya di muka bumi ini.

Kadang-kadang beroleh jayalah kamu dalam hidup. Karena berusaha membanting tulang, kamu menjadi orang kaya-raya. Karena pintar clan cerclik, kamu menjadi manusia terkemuka. Dengan usaha akal clan fikiranmu, kamu telah membuat sejarah. Kamu telah membangun, kamu telah membuat kota besar. "Timbullah rumah tangga, masyarakat dan negara.

Kepintaran manusia telah sangat maju, sehingga telah dapat membuat born Nuklir dan dapat menembus ruang angkasa dan telah mendarat di bulan. Tetapi ingatlah asal kejadianmu dan ingat pula akhirnya kamu akan mati. Kamu tidak akan lama dalam dunia ini. Sebab itu janganlah kamu hendak menguasai dunia untuk dirimu seorang. Umur kita terlalu pendek jika dibanding dengan umur dunia. Daerah kita terlalu sempit jika dibandingkan dengan luasnya alam. Apa yang tinggal jika kita mati? Adakah harta benda yang kita kumpulkan, dan pangkat tinggi yang kita capai dan bintang-bintang yang menghias dada akan menolong kita jika Malaikat Maut datang? . Adakah hartabenda ini dibawa ke dalam kubur? Dan masih berharga semuanya itu kalau waktu itu datang?

 

E.    Quran surah al haj ayat 5

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (5)

Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadi­kan kalian dari tanah; kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kalian dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kalian ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kalian yang dipanjang­kan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kalian lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.

Setelah menyebutkan perihal orang yang ingkar kepada hari berbangkit dan tidak percaya kepada adanya hari kemudian, Allah Swt. menyebutkan hal-hal yang menunjukkan kekuasaan-Nya dalam menghidupkan segala sesuatu yang telah mati melalui bukti yang nyata pada permulaan kejadian manusia. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ

Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan. (Al-Hajj: 5)

Yaitu hari kemudian di mana semua roh dan jasad menjadi satu dan bangkit hidup kembali kelak di hari kiamat.

فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ

maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah. (Al-Hajj: 5)

Artinya, asal mula kejadian kalian adalah dari tanah; yaitu asal mula penciptaan Adam a.s., nenek moyang mereka.

ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ

kemudian dari setetes mani. (Al-Hajj: 5)

kemudian keturunannya diciptakan dari air mani yang hina.

ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ

kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging. (Al-Hajj: 5)

Demikian itu apabila nutfah telah berdiam di dalam rahim wanita selama empat puluh hari. Selama itu ia mengalami pertumbuhan, kemudian bentuknya berubah menjadi darah kental dengan seizin Allah. Setelah berlalu masa empat puluh hari lagi, maka berubah pula bentuknya menjadi segumpal daging yang masih belum berbentuk dan belum ada rupanya. Kemudian dimulailah pembentukannya, yang dimulai dari kepala, kedua tangan, dada, perut, kedua paha, kedua kaki, dan anggota lainnya. Adakalanya seorang wanita mengalami keguguran sebelum janinnya mengalami pembentukan, dan adakalanya keguguran terjadi sesudah janin terbentuk berupa manusia.

Allah Swt. berfirman:

ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ

kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. (Al-Hajj: 5)

seperti yang dapat kalian saksikan sendiri.

لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

agar Kami jelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. (Al-Hajj: 5)

Yakni adakalanya janin menetap di dalam rahim tidak keguguran dan tumbuh terus menjadi bentuk yang sempurna.

Seperti yang dikatakan oleh Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. (Al-Hajj: 5) Yaitu janin yang telah berbentuk dan janin yang masih belum terbentuk. Apabila telah berlalu masa empat puluh hari dalam keadaan berupa segumpal daging, maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya. Malaikat itu diperintahkan-Nya untuk meniupkan roh ke dalam tubuh janin, lalu menyempurnakan bentuknya menurut apa yang dikehendaki oleh Allah Swt., apakah tampan atau buruk, dan apakah laki-laki atau perempuan. Selain itu malaikat tersebut ditugaskan pula untuk menulis rezeki dan ajalnya, apakah celaka atau berbahagia.

Hal ini telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-A'masy, dari Zaid ibnu Wahb, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada kami:

"إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجمع فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضغة مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ الْمَلَكَ فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلَمَّاتٍ: بِكَتْبِ عَمَلِهِ وَأَجَلِهِ وَرِزْقِهِ، وَشَقِّيٌ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ"

Sesungguhnya kejadian seseorang di antara kalian dihimpun­kan di dalam perut ibunya selama empat puluh malam, kemudian menjadi 'alaqah selama empat puluh malam, kemudian menjadi segumpal daging dalam masa empat puluh malam. Setelah itu Allah mengutus malaikat kepadanya; malaikat diperintahkan-Nya untuk mencatat empat perkara, yaitu mencatat rezekinya, amal perbuatannya, dan ajalnya (usianya), lalu nasibnya apakah celaka atau bahagia. Kemudian meniupkan roh ke dalam tubuhnya.

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya'bi, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa apabila nutfah telah menetap di dalam rahim, maka datanglah malaikat mencegahnya, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, apakah dijadikan ataukah tidak?" Jika dikatakan tidak dijadikan, maka tidaklah dibentuk kejadiannya, lalu dikeluarkan dari rahim dalam rupa darah kental. Tetapi jika dikatakan dijadikan, maka malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku, apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia celaka ataukah bahagia, bagaimanakah ajalnya dan jejak kehidupannya, serta di negeri manakah ia mati?" Kemudian dikatakan kepada nutfah itu, "Siapakah Tuhanmu?" Nutfah menjawab, "Allah." Dikatakan pula, "Siapakah yang memberimu rezeki?" Nutfah menjawab, "Allah." Lalu Allah berfirman kepada malaikat, "Pergilah kamu ke kitab itu, karena sesungguhnya kamu akan menjumpai di dalamnya kisah nutfah ini." Maka nutfah itu dijadikan dan menjalani masa hidupnya sampai ajalnya, ia memakan rezekinya dan melakukan perjalanan hidupnya. Bilamana telah tiba ajalnya, maka matilah ia dan dikebumikan. Kemudian Amir Asy-Sya'bi membaca firman-Nya: Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah men­jadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. (Al-Hajj: 5) Apabila tahap kejadiannya sampai pada segumpal darah, maka kejadiannya dikembalikan pada tahap keempat, lalu terbentuklah manusia. Tetapi jika ditakdirkan tidakjadi, maka dikeluarkan lagi oleh rahim dalam rupa darah. Dan apabila dijadikan, maka dikembalikan (ke dalam rahim) menjadi manusia.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنِ أَبِي الطُّفَيْلِ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أُسَيْدٍ -يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-قَالَ: "يَدْخُلُ الْمَلَكُ عَلَى النُّطْفَةِ بَعْدَ مَا تَسْتَقِرُّ فِي الرَّحِمِ بِأَرْبَعِينَ أَوْ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، أَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ؟ فَيَقُولُ اللَّهُ، وَيَكْتُبَانِ، فَيَقُولُ: أَذَكَرٌ أَمْ أَنْثَى؟ فَيَقُولُ اللَّهُ وَيَكْتُبَانِ، وَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَثَرُهُ وَرِزْقُهُ وَأَجَلُهُ، ثُمَّ تُطْوَى الصُّحُفُ، فَلَا يُزَادُ عَلَى مَا فِيهَا وَلَا يُنْتَقَصُ

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Abut Tufail, dari Huzaifah ibnu Usaid yang menyampaikan sanadnya sampai kepada Nabi Saw. Disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Malaikat masuk ke dalam nutfah sesudah nutfah berada di dalam rahim selama empat puluh atau empat puluh lima hari. Lalu malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku, apakah dia celaka atau bahagia?” Allah Swt. berfirman, dan malaikat itu mencatat. Lalu malaikat bertanya, "Apakah laki-laki ataukah perempuan?” Allah berfirman, dan malaikat mencatatnya. Malaikat mencatat amalnya, perjalanan hidupnya, rezekinya, dan ajalnya. Kemudian lembaran kitab itu ditutup, maka apa yang ada di dalamnya tidak dapat lagi ditambahi atau dikurangi.

Imam Muslim meriwayatkan melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dan melalui jalur lain dari Abut Tufail dengan lafaz yang semakna.

Firman Allah Swt.:

{ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا}

kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi. (Al-Hajj: 5)

Yakni dalam keadaan lemah tubuh, pendengaran, penglihatan, inderanya, kekuatan geraknya, serta akalnya. Kemudian Allah memberinya kekuatan sedikit demi sedikit, dan kedua orang tuanya merawatnya dengan penuh kasih sayang sepanjang hari dan malamnya. Karena itu, disebutkan oleh firman selanjutnya:

{ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ}

kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan. (Al-Hajj: 5)

Yaitu memiliki kekuatan yang makin bertambah sampai pada usia muda dan penampilan yang terbaiknya.

{وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى}

dan di antara kalian ada yang diwafatkan. (Al-Hajj: 5)

dalam usia mudanya dan sedang dalam puncak kekuatannya.

{وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ}

dan (ada pula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun. (Al-Hajj: 5)

Usia yang paling hina ialah usia pikun. Dalam usia tersebut seseorang lemah tubuhya, tidak berkekuatan, akal serta pemahamannya pun lemah pula; semua panca inderanya tidak normal lagi dan daya pikirnya pun lemah. Karena itu, disebutkan dalam firman selanjutnya:

{لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا}

supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya diketahuinya. (Al-Hajj: 5)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

{اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ}

Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (Ar-Rum: 54)

Al-Hafiz Abu Ya'la Ahmad ibnu Ali ibnul Musanna Al-Mausuli telah mengatakan di dalam kitab Musnad-nya, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Abu Muzahim, telah menceritakan kepada kami Kahlid Az-Zayyat, telah menceritakan kepadaku Daud Abu Sulaiman, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Ma'mar ibnu Hazm Al-Ansari, dari Anas ibnu Malik yang me-rafa'-kan hadis ini. Ia mengatakan bahwa bayi yang baru lahir hingga mencapai usia balig segala yang dikerjakannya berupa amal kebaikan tidak dicatatkan bagi orang tuanya atau kedua orang tuanya. Dan semua yang dikerjakannya berupa amal keburukan tidak dicatatkan bagi dirinya, tidak pula bagi kedua orang tuanya. Apabila ia telah mencapai usia balignya, maka Allah memberlakukan qalam terhadapnya dan memerintahkan kepada dua malaikat yang ada bersamanya untuk mencatat segala amal perbuatannya dengan catatan yang ketat. Apabila ia mencapai usia empat puluh tahun dalam Islam, Allah menyelamatkannya dari tiga penyakit, yaitu gila, lepra, dan supak. Apabila mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya; dan apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki kembali (bertobat) kepada-Nya sesuai dengan apa yang disukai-Nya. Apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya. Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, maka semua amal baiknya dicatat dan dihapuslah semua amal buruknya. Apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian; ia pun dapat memberikan syafaat kepada ahli baitnya serta dicatat sebagai Aminullah (orang kepercayaan Allah), dan dia menjadi tahanan Allah di bumi-Nya. Apabila ia mencapai usia pikun sehingga ia tidak mengetahui lagi segala sesuatu yang tadinya ia ketahui, maka Allah mencatatkan baginya hal yang semisal dengan amal kebaikan yang pernah dilakukannya semasa sehatnya; apabila melakukan suatu keburukan, maka tidak dicatatkan dalam buku catatan amalnya.

Hadis ini garib sekali, di dalamnya terkandung kemungkaran yang parah. Tetapi sekalipun demikian, Imam Ahmad ibnu Hambal me­riwayatkannya pula di dalam kitab musnadnya, baik secara mauquf ataupun marfu'.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amir, dari Muhammad ibnu Abdullah Al-Amili, dari Amr ibnu Ja'far, dari Anas yang mengatakan, bahwa apabila seorang lelaki muslim mencapai usia empat puluh tahun, Allah menyelamatkannya dari tiga macam penyakit, yaitu gila, supak, dan lepra. Apabila mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya. Apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki bertobat kepada-Nya yang disukainya. Dan apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya. Apabila mencapai usia delapan puluh tahun, Allah menerima semua kebaikannya dan menghapuskan semua keburukannya. Apabila mencapai usia sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian. Ia diberi julukan sebagai 'tahanan Allah di bumi-Nya' dan dapat memberikan syafaat kepada keluarganya.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdullah Al-Amiri, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Usman, dari Abdullah ibnu Umar ibnul Khattab, dari Nabi Saw. Lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.

وَرَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، حَدَّثَنِي يُوسُفُ بْنُ أَبِي ذَرَّةَ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ الضَّمْري، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا مِنْ مُعَمَّرٍ يُعَمَّرُ فِي الْإِسْلَامِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، إِلَّا صَرَفَ اللَّهُ عَنْهُ ثَلَاثَةَ أَنْوَاعٍ مِنَ الْبَلَاءِ: الْجُنُونُ وَالْجُذَامُ وَالْبَرَصُ

Imam Ahmad telah meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, telah menceritakan kepadaku Yusuf ibnu Abu Burdah Al-Ansari, dari Ja'far ibnu Amr ibnu Umayyah Ad-Dimri, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tiada seorang pun yang berusia panjang dalam Islamnya selama empat puluh tahun, melainkan Allah memalingkan darinya tiga macam penyakit yaitu gila, supak, dan lepra.

Lalu disebutkan hingga akhir hadis yang teksnya sama dengan hadis sebelumnya.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar, dari Abdullah ibnu Syabib, dari Abu Syaibah, dari Abdullah ibnu Abdul Malik, dari Abu Qatadah Al-Adawi, dari anak saudara Az-Zuhri, dari pamannya (Az-Zuhri), dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"مَا مِنْ عَبْدٍ يُعَمَّرُ فِي الْإِسْلَامِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، إِلَّا صَرَفَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْوَاعًا مِنَ الْبَلَاءِ: الْجُنُونُ وَالْجُذَامُ وَالْبَرَصُ، فَإِذَا بَلَغَ خَمْسِينَ سَنَةً لَيَّنَ اللَّهُ لَهُ الْحِسَابَ، فَإِذَا بَلَغَ سِتِّينَ سَنَةً رَزَقَهُ اللَّهُ الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ بِمَا يُحِبُّ، فَإِذَا بَلَغَ سَبْعِينَ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وسمي أَسِيرَ اللَّهِ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، فَإِذَا بَلَغَ الثَّمَانِينَ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنْهُ حَسَنَاتِهِ وَتَجَاوُزَ عَنْ سَيِّئَاتِهِ، فَإِذَا بَلَغَ التِّسْعِينَ غَفَر لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وسُمي أسير اللَّهِ فِي أَرْضِهِ، وَشُفِّعَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ"

Tiada seorang hamba pun yang diberi usia panjang dalam Islam selama empat puluh tahun, melainkan Allah memalingkan darinya berbagai macam penyakit, yaitu gila, lepra, dan supak. Apabila ia mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya. Apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki bertobat kepada-Nya berkat kesukaan yang ditanamkan Allah dalam dirinya. Apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, Allah memberikan ampunan baginya semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian; dan ia diberi nama 'tahanan Allah', semua penduduk langit menyukainya. Apabila mencapai usia delapan puluh tahun, Allah menerima amal-amal baiknya dan memaafkan amal-amal keburukannya. Dan apabila mencapai usia sembilan puluh tahun, Allah memberikan ampunan baginya atas semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, lalu ia diberi nama sebagai 'tahanan Allah di bumi-Nya' dan dapat memberikan syafaat kepada ahli baitnya.

Firman Allah Swt.:

{وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً}

Dan kalian lihat bumi ini kering. (Al-Hajj: 5)

Hal ini pun merupakan dalil lain yang menunjukkan kekuasaan Allah Swt. dalam menghidupkan orang-orang yang telah mati,- sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang kering tandus, tidak ada tanaman apa pun padanya.

Qatadah mengatakan bahwa hamidah artinya padang pasir lagi tandus (kering).

Sedangkan menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah tanah yang mati.

{فَإِذَا أَنزلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ}

kemudian apabila Kami telah turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al-Hajj: 5)

Apabila Allah menurunkan hujan, maka bumi yang tadinya tandus itu menjadi subur dan menumbuhkan tetumbuhannya dengan subur; lalu keluarlah dari tumbuh-tumbuhan itu berbagai macam buah-buahan dan tanam-tanaman yang beraneka ragam warna, rasa, bau, bentuk, dan manfaatnya. Karena itulah firman selanjutnya disebutkan:

{وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ}

dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al-Hajj: 5)

Yaitu yang indah bentuknya dan harum baunya.

Firman Allah Swt.:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ

 

F.     Quran Surah An-Nahl ayat 4

 

خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن نُّطۡفَةٖ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ

 

Terjemahannya: Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.

Allah memberi kabar tentang ciptaan-Nya [yang berupa] alam atas yaitu langit dan alam bawah yaitu bumi dan seisinya, bahwa itu semua diciptakan dengan haq, tidak untuk main-main, melainnkan: “Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap ada yang telah mereka kerjakan. Dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik [surga].”(an-Najm: 31). Lalu Allah membersihkan diri-Nya dari persekutuan orang yang menyembah-Nya dan menyembah yang lain-Nya, karena Dia yang mandiri dalam menciptakan, sendiri tiada sekutu bagi-Nya, maka dari itu hanya Dia-lah yang berhak untuk diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. lalu Allah mengingatkan atas penciptaan manusia [bahwa kejadiannya] dari mani, yaitu air yang menjijikkan dan lemah, dan ketika dia telah mandiri dan berkembang, tiba-tiba dia membantah Rabb-nya, mendustakan-Nya dan memerangi para Rasul-Nya, sedangkan dia diciptakan sebenarnya adalah sebagai hamba, bukan musuh. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.” (al-Furqaan: 54-55)

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Bisyir bin Jahhasy, bahwa Rasulullah saw. meludah di telapak tangannya, lalu beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Hai anak Adam! Bagaimana mungkin kamu meremehkan Aku dan Aku telah menciptakan kamu dari benda yang seperti ini, sehingga setelah Aku sempurnakan kejadianmu, dan Aku jadikan [susunan tubuh]mu seimbang, kamu berjalan dengan kedua kakimu, dan di bumi ada tempat kuburan bagimu. Lalu kamu kumpulkan harta dan kamu kikir, sehingga ketika kamu telah sekarat kamu berkata: ‘Aku akan bershadaqah, dan kapankah waktu shadaqah itu?’’”


 

Penutup

kesimpulan

Manusia merupakan makluk yang sempurna, dalam penciptaannya Allah memberika segala dimensi ke dalam diri manusia. Manusia oleh Allah swt. diberi akal yang tidak diberikan kepada hewan, diberi nafsu, yang tidak diberikan kepada malaikat, diberi hati untuk merasakan, dan lain sebagainya, sehingga manusia disebutkan sebagai sebaik-baik ciptaan.

Apalah yang akan dibanggakan manusia di dunia ini, padahal asal ke­jadiannya hanya dari tanah. Dia makan dari sayur-sayuran, buah-buahan, padi, jagung dan sebagainya, dan segala makanan itu tumbuh dan mengambil sari dari tanah. Datang hujan menyuburkan padi, menghijaukan daun-daunan dan mekarlah bunga, bergayutlah buah. Dan jika kemarau datang layu semua.


 

 

Daftar pustaka

 

http//:Ayat-ayat Al-Quran yang Menjelaskan Tentang Penciptaan Manusia, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.diakses pada tanggal 30 november 2018

https://alquranmulia.wordpress.com/2015/09/15/tafsir-ibnu-katsir-surah-an-nahl-ayat-3-4/ diakses pada tanggal 30 november 2018

http://www.ibnukatsironline.com/2015/07/tafsir-surat-al-hajj-ayat-5-7.html diakses pada tanggal 30 november 2018

https://www.islamkafah.com/tafsir-quran-makna-surat-al-haj-ayat-5/ diakses pada tanggal 30 november 2018

 

 

 



 

Syamsul Ma'arif

Nama saya adalah Syamsul Ma'arif. Saya seorang Pengajar Di Salah satu lembaga pendidikan islam Hidayatul Ghozzali

*

Post a Comment (0)
Previous Post Next Post