Dunia Kertas

MAKALAH ANALISA DAN PERBANDINGAN AKAL DAN WAHYU

MAKALAH 

ANALISA DAN PERBANDINGAN AKAL DAN WAHYU

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah

 Akidah dan ilmu kalam





KATA PENGANTAR

 

بسم  ï·² الر حمن الر حيم

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah AzzaWaJalla yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahlimpahkan kepada Nabi kita Rasulullah Shallallahu Alaihi WaSallam.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah akidah dan ilmu kalam. Makalah ini berjudul “Analisa dan perbandingan akal dan wahyu”.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran darirekan-rekan yang bersifat membangun, selalu kami harapkan demi lebih baiknya makalah ini.

Akhir kata, Jazakumullah Khairan Kastiran semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meridhoi segala usaha kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Purwakarta, 23 April 2018

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR................................................................................................ i

DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang..................................................................................................... 1

2.      Rumusan Masalah................................................................................................ 1

3.      Tujuan penulisan.................................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN

1.      Pengertian akal dan wahyu................................................................................... 2

2.      Analisa perbandingan antar aliran tentang akal dan wahyu................................. 4

3.      Skema pemikiran aliran akal dan wahyu............................................................. 5

4.      Fungsi akal dan wahyu......................................................................................... 5

BAB III PENUTUP

1.       Kesimpulan.......................................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 7




BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Semua aliran teologi dalam islam baik Asy”ariyah, Maturidiyah apalagi Mu’tazilah sama-sama mempergunakan akal dalam menyelesaikan persoalan-persoalan teologi yang timbul dikalangan umat Islam. Perbedaan yang terdapat antara aliran-aliran itu ialah perbedaan derajat dalam kekuatan yang diberikan kepada akal, kalau Mu’tazilah berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat, Asy’ariyah sebaliknya akal mempunyai daya yang lemah.

Akal dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, dialah yang memberikan perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang Kholiq, akal pun harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga menghasilkan budi pekerti yang sangat mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan juga tujuan dari baginda Rasulullah SAW.

Semua aliran juga berpegang kepada wahyu, dalam hal ini yang terdapat pada aliran tersebut adalah hanya perbedaan dalam interpretasi. Mengenai teks ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits. Perbedaan dalam interpretasi inilah, sebenarnya yang menimbulkan aliran-aliran yang berlainan itu tentang akal dan wahyu. Hal ini tak ubahnya sebagai hal yang terdapat dalam bidang hukum Islam atau fiqih.

 

B.   Rumusan masalah

1.    Pengertian Akal dan Wahyu

2.    Analisa Perbandingan Antar Aliran Tentang Akal dan Wahyu

3.    Fungsi Akal dan Wahyu

4.    Pengertian Iman dan Kufur

5.    Analisa Perbandingan Antar Aliran tentang Iman dan Kufur

 

C.    Tujuan Penulisan

Untuk lebih terarah maka penulis dapat menguraikan tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:

1.      Mengetahui Pengertian Akal dan Wahyu

2.      Mengetahui Analisa perbandingan antar aliran tentang akal dan wahyu

3.      Mengetahui Fungsi Akal dan Wahyu

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Pengertian Akal dan Wahyu

1.    Akal

kata akal berasal dari bahasa Arab yaitu al-‘Aql (العـقـل), yang dalam bentuk kata benda,  kata ini tidak terdapat dalam al-Qur’an. Didalam Al-Qur’an hanya ada bentuk kata kerjanya yaitu ‘aqaluuh (عـقـلوه) seperti kata ta’qiluunتعـقـلون) ), na’qil Ù†Ø¹Ù€Ù‚ـل)) ya’qiluha (يعـقـلها) dan kata ya’qiluun ÙŠØ¹Ù€Ù‚ـلون)), kata-kata itu bisa diartikan faham dan mengerti.

Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Dalam al-Qur’an dijelaskan dalam surat al-Hajj ayat  46 yang dikatakan bahwa pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui qalbu yang berpusat di dada.

Memang banyak sekali pendapat-pendapat yang menguraikan tentang pengertian akal. Tapi dalam pandangan Islam, akal tidaklah otak, tetapi daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang sebagai digambarkan dalam al-Qur’an, memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam Islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia, yaitu dari Tuhan.

2.    Wahyu

Secara etimologi wahyu berarti isyarat, bisikan, ilham, perintah. Sedangkan menurut terminologi berarti nama bagi sesuatu yang disampaikan secara cepat dari Allah kepada Nabi-Nabi_Nya.

Dalam pengertian lain, wahyu berasal dari kata arab Ø§Ù„وحي, dan al-wahy adalah kata asli Arab yang berarti suara, dan kecepatan. Di samping itu juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara sembunyi-sembunyi dan dengan cepat. Tentang penjelasan cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dan Nabi-Nabi.

3.     Karakteristik Wahyu

1.    Wahyu baik berupa Al-qur’an dan Hadits bersumber dari Tuhan, Pribadi Nabi Muhammad yang menyampaikan wahyu ini, memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu.

2.    Wahyu merupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpa mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum atau khusus.

3.    Wahyu itu adalah nash-nash yang berupa bahasa arab dengan gaya ungkap dan gaya bahasa yang berlaku.

4.    Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal.

5.    Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.

6.    Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan.

7.    Sesungguhnya wahyu yang berupa al-qur’an dan as-sunnah turun secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.

4.      Pentingnya Akal.

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diciptakan Allah mempunyai banyak sekali kelebihan jika dibandingkan dengan mahklukmahkluk ciptaan Allah yang lainnya.

Bukti otentik dari kebenaran bahwa manusia merupakan makhluk yang paling sempurna di antara mahkluk yang lain adalah ayat al-Quran surat At-Tin ayat 4 sebagai berikut:

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya”. (QS At-Tin [95]: 4).

Satu hal yang membuat manusia lebih baik dari mahkluk yang lain yaitu manusia mampu berpikir dengan akalnya, karena manusia dianugerahi oleh Allah dengan akal sehingga dengannya manusia mampu memilih, nmempertimbangkan, menentukan jalan pikirannya sendiri. Agama Islam sangat menjunjung tinggi kedudukan akal. Dengan akal manusia mampu memahami al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan lewat Nabi Muhammad, dengannya juga manusia mampu menelaah kembali sejarah Islam dari masa lampau.

1.    Akal menurut pendapat Muhammad Abduh adalah suatu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahkluk lain.

2.    Akal adalah tonggak kehidupan manusia yang mendasar terhadap kelanjutan wujudnya, peningkatan daya akal merupakan salah satu dasar dan sumber kehidupan dan kebahagiaan bangsa-bangsa.

3.    Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal. Iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat, dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan.

5.       Kekuatan akal dan Kekuatan wahyu

a.       Kekuatan Akal

1.      Mengetahui Tuhan dan sifat-sifatnya.

2.      Mengetahui adanya kehidupan akhirat.

3.      Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaraan tergantung pada tidak mengenal Tuhan dan pada perbuatan jahat.

4.      Mengetahui wajibnya manusia mengenal Tuhan.

5.      Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.

6.      Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

b.      Kekuatan wahyu

1.        Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

2.        Membuat suatu keyakinan pada diri manusia.

3.        Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib.

4.        Wahyu turun melalui para ucapan Nabi-nabi.

B.   Analisa perbandingan antar aliran tentang akal dan wahyu

1.    Aliran Mu’tazilah

Bagi kaum mu’tazilah, segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantaraan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunya wahyu adalah wajib. Baik dan jahat dapat diketahui oleh akal, demikian pula kewjiban mengerjakan yang baik dan menjahui yang jahat, dapat diketahui oleh akal.

     Dalam kaitan ini Abu Al-huazail menyatakan bahwa sebelum datangnya wahyu, seorang mukalaf wajib mengetahui adanya Tuhan tanpa keraguan sedikit pun. Jika ia tidak berterima kasih kepada Tuhan, maka akan mendapatkan hukuman. Ia juga wajib mengetahui perbuatan yang baik dan buruk dannoleh karenanya, ia berkewajiban mengerjakan yang baik seperti jujur dan adil serta menjauhi perbuatan yang buruk seperti berdusta dan dholim.

2.    Aliran Asy’ariyah

          Asy’ariyah berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajinban berterima kasih kepada Tuhan, baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu.

       Bagi Al-Asy’ari, manusia tidak dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, manusia tidak dapat mengetahui apa saja yang menjadi kewjiban-kewjibannya. Semua kewajiaban hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tidak bisa menetapkan bahwa sesuatu itu baik atau buruk, juga tidak dapat menetapkan bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia. Demikian juga dengan kewajiban mengetahui Tuhan, hanya dapat diketahui lewat wahyu.

 

3.    Aliran Maturidiyah Samarkhan dan Bukhara

Ø  Menurut Maturidi Samarkhan

Akal dapat mengetahui adanya tuhan, kewajiban mengetahui tuhan,dan mengetahui baik dan jahat. Adapun kewajiban untuk mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang jahat akal tidak mampu mengetahui nya. Hal ini hanya dapat diketahui oleh wahyu.

Ø  Menurut maturidiyah bukhara

Akal manusia hanya mampu untuk mengetahui tuhan dan mengetahui baik dan jahat. Adapun kewajiban mengetahui tuhan dan kewajiban melakukan yang baik dan meninggalkan yang jahat akal manusia tidak mampu mengetahuinya dan hal ini hanya dapat diketahui dengan wahyu.

 

4.    Menurut Salafiyah.

   Menurut Salafiyah, fungsi wahyu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi akal. Jalan untuk mengetahui aqidah dan hukum-hukum dalam Islam dan segala sesuatu yang bertalian dengan itu, baik yang pokok maupun yang cabang, baik aqidah itu sendiri maupun dalil-dalil pembuktiannya, tidak lain sumbernya ialah wahyu Allah SWT yakni Al-Qur’an dan juga Hadits-hadiits Nabi SAW sebagai penjelasannya. Apa yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dan dijelaskan oleh Sunnah Nabi harus diterima dan tidak boleh ditolak.

      Akal pikiran tidak mempunyai kekuatan untuk mentakwilkan Al-Qur’an atau mentafsirkannya ataupun menguraikannya, keucali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) yang dikuatkan pila oleh hadits-hadits. Kekuatan akal sesudah itu tidak hanya membenarkan dan tunduk pada nash, serta mendekatnya kepada alam pikiran.Jadi fungsi akal pikiran tidak lain hanya menjadi saksi pembenaran dan penjelas dalil-dalil Al-Qur’an , bukan menjadi hakim yang mengadili dan menolaknya.

C.    Skema Pemikiran Aliran Akal dan Wahyu

Aliran

MT

MBJ

KMT

KMBJ

Mu’tazilah

Akal

Akal

Akal

Akal

Asy’ariyah

Akal

Wahyu

Wahyu

Wahyu

Maturidiyah Samarkand

Akal

Akal

Akal

Wahyu

Mauridiyah Bukhara

Akal

Akal

Wahyu

Wahyu

Keterangan:

MT

:

Mengetahui Tuhan

MBJ

:

Mengetahui baik dan buruk/jahat

KMT

:

Kewajiban mengetahui Tuhan

KMBJ

:

Kewajiban mengerjakan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan buruk

 

D.   Fungsi Akal dan Wahyu


         Mengenai fungsi ini dikatakan bahwa wahyu mempunyai kedudukan terpenting dalam aliran Asy’ariyah dan fungsi terkecil dalam faham mu’tazilah. Bertambah besar fungsi diberikan kepada wahyu dalam suatu aliran, bertambah kecil daya akal dalam aliran itu. Sebaliknya bertambah sedikit fungsi wahyu dalam suatu aliran, bertambah besar daya akal pada aliran itu. Akal, dalam usaha memperoleh pengetahuan, bertindak atas usaha dan daya sendiri dan dengan demikian menggambarkan kemerdekaan dan kekuasaan manusia. Wahyu sebaliknya, menggambarkan kelemahan manusia, karena wahyu diturunkan Tuhan untuk menolong manusia memperoleh pengetahuan-pengetahuan.

 


 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Secara konseptual, istilah wahyu menunjukkan kepada nama-nama yang lebih populer seperti Al-Kitab, Al-Qur’an, Risalah, dan Balagh. Dalam terminologi Islam, wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu dinamakan Al-Qur’an.

Sedangkan pembahasan tentang akal, sampai sekarang masih berkelanjutan. Didalam bahasa arab, akal diartikan kecerdasan, lawan kebodohan,dan diartikan pula dengan hati (qalb), suatu kekuatan yang membedakan manusia dari semua jenis hewan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan akal adalah gabungan dari dua pengertian di atas, yang disampaikan oleh ibn Taimiyah dan menurut kamus, yakni daya pikir untuk memahami sesuatu, yang di dalamnya terdapat kemungkinan bahwa pemahaman yang didapat oleh akal bisa salah atau bisa benar.

Menurut Mu’tazilah, fungsi wahyu adalah dibawah fungsi akal. Mereka lebih memuji akal mereka dibanding dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits Nabi.

Menurut Salafiyah, fungsi wahyu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fungsi akal.

Menurut Asy’ariyah, fungsi wahyu (Al-Qur’an) dan hadits adalah sebagai pokok, sedang fungsi akal adalah sebagai penguat Nash-nash wahyu dan hadits.

Menurut Maturidiyah, fungsi wahyu dan akal adalah sejajar atau seimbang. Al-Maturidi mangakui adanya kebaikan dan keburukan yang terhadap pada sesuatu perbuatan itu sendiri, dan akal bisa mengetahui kebaikan dan keburukan sebagai suatu perbuatan.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

pembelajaran-aktif.blogspot.co.id/2012/01/akal-dan-wahyu-menurut-aliran-aliran.

M.Abdillah.perbandingan antara aliran akal dan wahyu mbaidillahsdnmantaren3.wordpress.com/2016/07/09

Dani Robbina.http://robbinadani.blogspot.co.id/2015/04/analisa-perbandingan-antar-aliran-akal.html

Syamsul Ma'arif

Nama saya adalah Syamsul Ma'arif. Saya seorang Pengajar Di Salah satu lembaga pendidikan islam Hidayatul Ghozzali

*

Post a Comment (0)
Previous Post Next Post